Kamis, 03 April 2008

spesifikasi pembebanan

ngin menjadi insinyur sipil yang profesional adalah keinginan setiap orang (lulusan teknik sipil yang seneng struktur tentunya). Profesional yang dimaksud di sini adalah bukan mempunyai sertifikat profesional aja lho, tetapi benar-benar mampu bekerja sesuai yang diharapkan oleh owner (pemberi kerja), mampu memberikan solusi yang menyelesaikan permasalahan. Tentu saja itu di bidang engineering.

Kriteria kepuasan owner tentu saja harus dimulai dari fungsinya terlebih dahulu yaitu keselamatan (strength and ductile), kenyamanan (stiffnes) yang sekarang mungkin ada unsur keselamatan lingkungan. Baru setelah itu unsur-unsur bisnis, misalnya sesuai budget (ekonomis), dapat dikerjakan dan sebagainya.

Untuk mendapatkan hal-hal seperti itu bagaimana caranya. Salah satu cara yang ampuh / efektif adalah kemampuan engineer untuk memperkirakan beban-beban apa yang akan bekerja pada struktur rancangannya tersebut. Ini tidak gampang, pengalaman tidak menjamin (tergantung pengalamannya di mana), untuk itu insinyur harus selalu meningkatkan pengetahuan dan wawasannya, juga perlu saling berinteraksi satu sama lain, mempelajari pengalaman orang-orang lain yang pernah sukses dengan kasus serupa. Langkah yang efektif adalah banyak membaca dan juga yang paling penting (menurutku) adalah selalu rutinlah berkunjung pada blog ini.

Mengapa sih ?

Blog ini ternyata sudah menjadi kebutuhan bersama para engineer, khususnya di Indonesia. Buktinya ? Mereka-mereka sudah tidak segan-segan berbagi pengetahuan maupun informasi yang mereka miliki. Diskusi maksudnya pak ? Bukan, tidak hanya diskusi lebih dari itu, yaitu literatur-literatur digital. Itu tidak hanya sekali, beberapa teman engineer telah banyak yang mengirim jurnal, code, dsb-nya tentang structural engineering. Ada beberapa CD ya, wah lupa, pokoknya kalau mau baca seminggu aja pasti udah teler.

Misalnya ini lho tentang spesifikasi pembebanan , udah punya belum :

A m e r i c a n S o c i e t y o f C i v i l E n g i n e e r s

M i n i m u m D e s i g n L o a d s f o r B u i l d i n g s a n d
O t h e r S t r u c t u r e s

A. S_ C. E atau S. E_ I seri 7 tahun 05

Chapter 1 – General (down-load PDF 178 kb)

Chapter 2 – Combinations of Loads (down-load PDF 75 kb)

Chapter 3 - Dead Loads Soil Loads and Hydrostatic Pressure
(down-load PDF 53 kb)

Chapter 4 – Live Loads (down-load PDF 221 kb)

Chapter 5 – Flood Loads (down-load PDF 164 kb)

Chapter 6 – Wind Loads (down-load PDF 2,232 kb)

Chapter 7 – Snow Loads (down-load PDF 474 kb)

Chapter 8 – Rain Loads (down-load PDF 37 kb)

Chapter 9 - Reserved for Future Provisions (down-load PDF 26 kb)

Chapter 10 - Ice Loads-Atmospheric Icing (down-load PDF 576 kb)

Chapter 11 - Seismic Design Criteria (down-load PDF 498 kb)

Chapter 12 - Seismic Design Requirements for Building Structures
(down-load PDF 1,242 kb)

Chapter 13 - Seismic Design Requirements for Nonstructural Components
(down-load PDF 553 kb)

Chapter 14 - Material-Specific Seismic Design and Detailing Requirements
(down-load PDF 528 kb)

Chapter 15 - Seismic Design Requirements for Nonbuilding Structures
(down-load PDF 760 kb)

Chapter 16 - Seismic Response History Procedures
(down-load PDF 118 kb)

Chapter 17 - Seismic Design Requirements for Seismically Isolated Structures
(down-load PDF 533 kb)

Chapter 18 - Seismic Design Requirements for Structures with Damping Systems
(down-load PDF 734 kb)

Chapter 19 - Soil Structure Interaction for Seismic Design
(down-load PDF 134 kb)

Chapter 20 - Site Classification Procedure for Seismic Design
(down-load PDF 88 kb)

Chapter 21 - Site-Specific Ground Motion Procedures for Seismic Design
(down-load PDF 1,633 kb)

Chapter 22 - Seismic Ground Motion and Long-Period Transition Maps
(down-load PDF 1,424 kb)

Chapter 23 - Seismic Design Reference Documents (down-load PDF 147 kb)

Appendix 11A Quality Assurance Provisions
Appendix 11B Existing Building Provisions
Appendix C Serviceability Considerations (down-load PDF 239 kb)

COMMENTARY (down-load PDF 6,616 kb)

teknologi keramik komposit (keraton)

Teknologi keramiknya sendiri ternyata terdiri dari blok terpisah seperti ini selanjutnya blok-blok keramik dirakit dan disisipi tulangan yang berfungsi sebagai tulangan tarik untuk menjadi seperti balok sebagai berikut Kalau melihat penampilannya, maka tulangan tersebut juga berfungsi sebagai pengikat dengan semen (kelihatannya khusus) yang berfungsi seperti lem. Pada tahap ini, agar dapat menjadi balok yang baik, yang dapat diangkat dengan aman untuk dipasang di lantai atas adalah sangat tergantung dari teknologinya. Perlu presisi yang cukup baik, karena kalau tidak itu balok menjadi tidak lurus (saling bergeser), juga semennya perlu diketahui apa jenisnya, jika pakai semen biasa, berapa lama rakitan tersebut dapat diangkat. Untuk mengangkatnya juga perlu latihan dulu.

Secara logis bentuk di atas memang dapat diterima, bagian keramik berfungsi sebagai kopel desak, sedangkan tulangan sebagai tulangan tarik. Tulangan dipasang pada ke empat sudut, agar mampu menerima lentur pada semua arah. Tapi ingat, itu semua diarahkan untuk menerima berat sendiri, dan juga berat beton di atasnya, yaitu ketika dicor.

Selanjutnya tujuan dari balok di atas adalah dikembangkan sebagai lantai komposit, yaitu dengan dijajarkan dan diatasnya dicor dengan beton atau mungkin hanya mortar, sebagai berikut.

Inilah mungkin yang dimaksud dengan teknologi keramik komposit (keraton).

Jika melihat bagian atas keramik, bagian yang dicor, terlihat sekali cukup tipis, kurang dari 3 cm. Jadi pengecorannya kelihatannya bukan beton tapi mortar. Jika demikian maka yang dapat diandalkan adalah beton di pinggir-pinggir keramik tersebut, fungsinya seperti balok rib. Secara prinsip itu semua memang dapat bekerja sebagai elemen balok struktur. Bahkan pihak produsennya telah mengujinya di laboratorium .

Bagaimana dibanding beton masif ?

Ya jelaslah, beton masif secara kekuatan untuk ketebalan yang sama tentu akan lebih kuat dibanding lantai tersebut, apalagi jika didesain terhadap beban terpusat yang cukup besar, misalnya gudang.

keunggulan dari penggunaan lantai tersebut adalah
  • dapat berfungsi sebagai perancah tetap, dipasang tanpa perlu pembongkaran. Jadi jelas dari segi perancah ada penghematan
  • adanya rongga maka berat sendiri beton berkurang, jelas ini merupakan suatu keuntungan. Tetapi berapa tepatnya dapat dihemat perlu studi tersendiri, karena untuk pemasangan teknologi tersebut perlu perhatian khusus.
  • rongga juga bagus terhadap suara (lebih kedap ) juga terhadap termal, jadi mestinya lebih sunyi dan dingin. Tentunya ini perlu pengamatan yang lebih baik, karena sifatnya cukup relatif.

Kerugian memakai produk tersebut

  • karena memakai konsep balok, maka lantainya adalah one-way-slab, pengalihan beban dalam satu arah saja. Jadi bentuk lantai yang cocok adalah persegi, dimana balok komposit kraton tersebut ditempatkan pada arah pendeknya. Jadi jika digunakan pada lantai berbentuk bujur sangkar dimana pada keempat sisinya ada balok tumpuan yang di cor sekaligus maka sistem ini tidak cocok.
  • karena bagian beton atau mortar yang menjadi komposit relatif tipis, maka perilaku beban yang cocok adalah lentur global. Jika bebannya kebanyakan merata, lebih cocok, jika dibanding beban terpusat. Jika dipaksa, maka sebaiknya ketebalan beton ditambah, minimal 5 atau 6 cm dengan di atasnya ditambah tulangan. Masalahnya apakah teknologi ini mampu berdiri sendiri, karena jelas jika beton ditambah maka akan bertambah berat juga.
  • untuk pemasangan plafon di bagian bawah, hati-hati. Perlu ditanya apakah keramiknya nggak pecah jika dipaku. Apalagi paku beton. Karena biasanya semakin keras itu keramik, maka semakin non-ductile (getas).

Tentang promosinya yaitu

Pengurangan beban bangunan dengan pemakaian teknologi KERATON (keramik komposit beton) untuk pelat lantai tingkat anda, akan mengurangi daya ayun bangunan sehingga ketahanan akan gempa lebih baik.

Kadang bisa menyesatkan, karena awam pasti beranggapan bahwa jika memakai teknologi tersebut maka rumahnya akan tahan gempa ! Apakah memang betul seperti itu.

Saya kira itu perlu disikapi hati-hati. Memang benar sih, semakin ringan, maka suatu bangunan akan lebih baik terhadap gempa. Ingat rumus neweon F=m.a . Jadi jika massa bangunan berkurang maka gaya gempa yang terjadi akibat percepatan gempa juga berkurang pula khan.

Tapi ingat, bahwa dalam hal ini teknologi keramik komposit diposisikan sebagai lantai, dimana dalam hal penyaluran gaya-gaya, maka dia hanya berfungsi sebagai penahan beban-beban gravitasi saja. Kalaupun gempa, paling-paling berfungsi sebagai diagframa, meskipun dalam hal ini perlu disangsikan karena beton di atasnya relatif tipis. Apa bisa efektif gitu.

Padahal yang memegang peran penting bagi bangunan tahan gempa adalah struktur frame yaitu terdiri dari balok dan kolom.

Jadi jika ada pernyataan penjualnya bahwa jika pakai produk tersebut pasti akan tahan gempa adalah tidak tepat.